NILAI - NILAI
PENDIDIKAN ISLAM DALAM SYAIR LAGU “SIIR TANPO WATON” KARYA KH. MUHAMMAD NIZAM
AS-SHOFA.
PROPOSAL
SKRIPSI
Diajukan Kepada
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta
Guna Memenuhi Persyartan Penyusunan Skripsi
Disusun Oleh:
MUHAMMAD HIJRAH TANJUNG
NIM: 08410075
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS
TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Era
globalisasi yang kini sedang berlangsung telah memperhasilkan kemajuan disegala
bidang. Gerak dan mekanismenya ilmu pengetahuan melaju begitu cepat,
perkembangan informasi dan komunikasi semakan canggih. Namun harus diakui era globalisasi
juga membawa imbas negative bersamaan dengan tujuan positif yang ingin di
capai. Hal ini karena era globalisai atau era keterbukaan sehingga akulturasi
budaya mudah sekali terjadi. Masyarakat sulit sekali menyaring budaya barat
yang masuk, sedang budaya tersebut belum tentu baik. Akibatnya terjadilah
kemerosotan moral. Selanjutnya munculah pola kehidupan yang jauh dari
nilai-nilai dan etika, terjadi kesenjangan ekonomi, pola hidup permisif,
individualis, hedonis, dan lain-lain.
Sebagoi
contoh kenakalan remaja di dalam lingkungan kita saja sudah banyak, itu karena
kurangnya peran orang tua dalam memberikan pembelajaran agama kepada anaknya.
Dengan itulah di butuhkan peran orang tua dalam mengajarkan ibadah agar anak
tidak mudah terjerumus dalam pergaulan bebas yang telah marak di lingkungan
kita saat ini.
Menghadapi
realitas di atas, pendidikan harus tampil sebagai caunter sekaligus bertanggung
jawab mewujutkan masyarakat yang didalamnya tercermin nilai-nilai dan etika
yang di junjung tinggi. Hal ini sesuai misi yang dibawa oleh pendidikan itu
sendiri yaitu membangun manusia yang utuh, manusia yang seimbang jasmani dan
rohaninya, manusia yang mempunyai moral dan akhlak yang baik bagi dirinya
maupun orang lain.
Dalam
konteks islam, arah pendidikan terdiri dari intelektualitas, moralitas dan
profesionalitas.[1]
Intelektualitas
adalah orang yang menggunakan kecerdasan untuk bekerja, membayangkan, belajar,
dan menggagas atau menjawab persoalan tentang gagasan.
Moralitas
adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap,
kewajiban dan lain-lain; akhlak budi pekerti; dan susila. Kondisi mental yang
membuat orang tetap berani; bersemangat; bergairah; berdisiplin dan sebagainya.
Profesionalitas
adalah wujud dari upaya optimal untuk memenuhi apa-apa yang telah diucapkan,
dengan cara-cara yang tidak merugikan orang lain, sehingga semua tindakannya
dapat di terima oleh unsur-unsur yang terkait.
Dengan
demikian, maka pendidikan merupakan kebutuhan manusia yang mutlak dibutuhkan.[2]
Karena dengan pendidikan agama efek yang datang dari dunia modern akan
dibendung atau disaring mana yang baik dan mana yang buruk. Pendidikan bukan
suatu yang bebas nilai, melainkan misi syarat yang sarat dengan nilai-nilai
kemanusiaan. Karena pada dasarnya pendididikan dilandakan pada suatu pemahaman
bahwa pendidikan tidak bisa dipisahkan dari konteks social, cultural, dan
politik yang lebih luas.[3]
Usaha
pendidikan kalau dijabarkan lebih rinci akan membawa kepada sebuah proyeksi
pendidikan ke arah :
1. Proyeksi
ke arah pembinaan ketaqwaan dan akhlakul karimah yang dijabarkan dalam
pembinaan kompetensi enam aspek keimanan, lima aspek keislaman dan multi aspek
keihsanan.
2. Mempertinggi
kecerdasan dan kemampuan anak didik.
3. Memasukan
pengetahuan dan teknologi beserta manfaat dan aplikasinya.
4. Meningkatkan
kualitas hidup.
5. Memelihara, mengembangkan serta meningkatkan
budaya dan lingkungan sekitar.
6. Memperluas
pandangan hidup sebagai manusia yang komunikatif terhadap keluarga, bangsa,
sesama manusia dan mahluk lainnya.[4]
Arah
pendidikan di atas menunjukan nilai-nilai ajaran pendidikan islam yang
sebenarnya tidak menolak ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada di dalam
masyarakat. Karena pendidikan agama senantiasa bersentuhan dengan pengetahuan
dan teknologi yang ada.
Tradisi
pemikiran islam mengambil sikap terbuka kepada ilmu pengetahuan dan teknologi
sebagai sikap kaum muslimin yang spontan menghargai, mengadaptasi dan
memanfaatkan ilmu pengetahuan. Namun sikap terbuka itu harus senantiasa
diimbangi dengan usaha untuk menjunjung tinggi nilai, harkat dan moralitas
kemanusiaan, mengingat ajaran islam sebagai agama kemanusiaan.
Pendidikan
Islam adalah sarana penyebaran nilai-nilai agama yang menjadi medium bagi
terjadinya transformasi nilai-nilai dan ilmu pengetahuan yang berfungsi sebagai
pencetus corak kebudayaan dan peradaban manusia.[5]
Pendidikan juga diarahkan sebagai upaya sebagai upaya pengembangan dan
pembinaan seluruh potensi manusia tanpa terkecuali dan tanpa prioritas dari
jumlah potensi yang ada, sehingga manusia mampu menghadapi tantangan zaman yang
akan datang. Maka jelas pendidikan adalah sesuatu yang mutlak yang harus di
miliki semua orang di dunia.
Hakekat
dari pendidikan adalah akhlak, sebagaimana yang dikatakan Muhammad Athiyah
al-Abrasyi bahwa hakikat pendidikan islam adalah seperti apa yang telah di
tetapkan dan dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu pembentukan moral yang
tinggi tanpa mengabaikan pendidikan jasmani, akal dan ilmu praktis.[6]
Diantara
sumber-sumber yang menjadi dasar serta rujukan pendidikan Islam adalah
Al-Qur”an dan Al-Hadist. Dari situlah terurai nilai-nilai pendidikan yang
hendak di transformasikan kepada semua umat Islam yang ada di dunia ini.
Penulis melihat bahwa pendidikan bukan hanya terdapat dalam Al-Qur’an dan
Al-Hadist saja tapi juga dalam karya sastra manusia. Hal ini berangkat dari asumsi
bahwa manusia sudah menyisipkan suatu atau banyak nasehat dalam sebuah sastra
yang mereka buat. Sedang untuk dapat menemukan pesan apa yang ada dalam sebuah
sastra kita harus mampu memahami arti dan maksud dari pengarang membuat karya
sastra itu sendiri.
Secara
ideal, seorang manusia berkarya bukan saja mencerminkan situasi batin yang
kosong, melainkan juga mencerminkan refleksinya terhadap realitas yang ada di
kehidupan sehari-hari. Semua itu dialakukan sebagai ekspresi dan motivasi untuk
memenuhi kebutuhan beraktualisasi diri. Namun dalam prakteknya, sebuah karya,
apapun bentuknya tercipta minimal oleh tiga motivasi utama, yaitu :
a. Motivasi
kearah entertainment, yaitu motivasi yang bertujuan komersil atau berorientasi
pasar.
b. Motivasi
estetis-rekreatif yang bertujuan untuk menghibur konsumen.
c. Motivasi
menyampaikan pesan-pesan dan nasehat
Karena
sebuah karya sastra juga memiliki dimensi pendidikan, di dalamnya banyak
disisipi nasehat. Pendapat inilah yang menjadi pijakan dalam penelitian ini.
Pendidikan disini tentunya pendidikan dalam arti luas, yaitu pendidikan tidak
hanya dilakukan dalam sebuah lembaga formal, namun juga dilakukan dimana saja
dan kapan saja.
Dalam
konteks penulisan ini, pendidikan dimaksud yaitu pendidikan melalui syair lagu,
yang disampaikan oleh KH. Muhammad Nizam As-shofa atau yang lebih popular
dengan nama Gus Nizam.
Selain dikenal sebagai seorang kyai, Gus Nizam
juga sering mendendangkan banyak Sholawat atau syair. Karena dengan sholawat
atau syair seseorang akan lebih mudah memahami pesan yang ingin di sampaikan.
Hal ini dikarenakan bahasa yang di gunakan lebih mudah untuk di pahami. Sebagai
contoh syair berikut:[7]
Ngawiti ingsun nglaras syi’iran
Kelawan muji maring Pengeran
Kang paring rohmat lan kenikmatan
Rino wengine tanpo pitungan 2X
Duh bolo konco priyo wanito
Ojo mung ngaji syareat bloko
Gur pinter ndongeng nulis lan moco
Tembe mburine bakal sengsoro 2X
Artinya :
Aku memulai menembangkan syi’ir
Dengan memuji kepada Tuhan
Yang memberi rohmat dan kenikmatan
Siang dan malamnya tanpa terhitung
Wahai para teman pria dan wanita
Jangan hanya belajar syari’at saja
Hanya pandai bicara, menulis dan membaca
Esok hari bakal sengsara
Dengan potongan syair di atas, seseorang
akan dengan mudah mengerti pesan yang di sampaikan oleh Gus Nizam yang prihatin
terhadap realita kehidupan modern dalam masyarakat. Menurut syair itu,
masyarakat cenderung belajar membaca tanpa memahami isi dari apa yang dia baca,
seperti yang di jelaskan pada syair selanjutnya:[8]
Akeh kang apal Qur’an Haditse
Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dewe dak digatekke
Yen isih kotor ati akale 2X
Artinya :
Banyak yang hapal Qur’an dan
Haditsnya
Senang mengkafirkan kepada orang
lain
Kafirnya sendiri tak dihiraukan
Jika masih kotor hati dan akalnya
Potongan syair di atas menjelaskan banyaknya orang yang
hafal Al-Qur”an dan Hadist tapi belum bisa menganbil intisari dari hadist dan
AL-Qur”an itu sendiri. Dan contoh-contoh yang lain akan di jelaskan pada syair
selanjutnya.[9]
Gampang kabujuk nafsu angkoro
Ing pepaese gebyare ndunyo
Iri lan meri sugihe tonggo
Mulo atine peteng lan nisto 2X
Ayo sedulur jo nglaleake
Wajibe ngaji sak pranatane
Nggo ngandelake iman tauhide
Baguse sangu mulyo matine 2X
Kang aran sholeh bagus atine
Kerono mapan seri ngelmune
Laku thoriqot lan ma’rifate
Ugo haqiqot manjing rasane 2 X
Al Qur’an qodim wahyu minulyo
Tanpo tinulis biso diwoco
Iku wejangan guru waskito
Den tancepake ing jero dodo 2X
Kumantil ati lan pikiran
Mrasuk ing badan kabeh jeroan
Mu’jizat Rosul dadi pedoman
Minongko dalan manjinge iman 2 X
Kelawan Alloh Kang Moho Suci
Kudu rangkulan rino lan wengi
Ditirakati diriyadohi
Dzikir lan suluk jo nganti lali 2X
Uripe ayem rumongso aman
Dununge roso tondo yen iman
Sabar narimo najan pas-pasan
Kabeh tinakdir saking Pengeran 2X
Kelawan konco dulur lan tonggo
Kang podho rukun ojo dursilo
Iku sunahe Rosul kang mulyo
Nabi Muhammad panutan kito 2x
Ayo nglakoni sakabehane
Alloh kang bakal ngangkat drajate
Senajan asor toto dhohire
Ananging mulyo maqom drajate 2X
Lamun palastro ing pungkasane
Ora kesasar roh lan sukmane
Den gadang Alloh swargo manggone
Utuh mayite ugo ulese 2X
Artinya
:
Gampang terbujuk nafsu angkara
Dalam hiasan gemerlapnya dunia
Iri dan dengki kekayaan tetangga
Maka hatinya gelap dan nista
Ayo saudara jangan melupakan)
Wajibnya mengkaji lengkap dengan aturannya)
Untuk mempertebal iman tauhidnya)
Bagusnya bekal mulia matinya
Yang disebut sholeh adalah bagus hatinya)
Karena mapan lengkap ilmunya)
Menjalankan tarekat dan ma’rifatnya)
Juga hakikat meresap rasanya
Al Qur’an qodim wahyu mulia
Tanpa ditulis bisa dibaca
(itulah petuah guru mumpuni
Ditancapkan di dalam dada
Menempel di hati dan pikiran
Merasuk dalam badan dan seluruh hati
Mukjizat Rosul(Al-Qur’an) jadi pedoman
Sebagai sarana jalan masuknya iman
Kepada Alloh Yang Maha Suci
Harus mendekatkan diri siang dan malam
Diusahakan dengan sungguh-sungguh secara ihlas
Dzikir dan suluk jangan sampai lupa
Hidupnya tentram merasa aman
Mantabnya rasa tandanya beriman
Sabar menerima meski hidupnya pas-pasan
Semua itu adalah takdir dari Tuhan
Terhadap teman, saudara dan tetangga
Yang rukunlah jangan bertengkar
Itu sunnahnya Rosul yang mulia
Nabi Muhammad tauladan kita
Ayo jalani semuanya
Allah yang akan mengangkat derajatnya
Walaupun rendah tampilan dhohirnya
Namun mulia maqam derajatnya di sisi Allah)
Ketika ajal telah datang di akhir hayatnya
Tidak tersesat roh dan sukmanya
Dirindukan Allah surga tempatnya
Utuh jasadnya juga kain kafannya
Begitulah
kira-kira syair lagu yang dibawakan Gus Nizam beserta santri-santrinya yang
dipandang memiliki kelebihan dan keistimewaan. Dari syair itu masyarakat dapat
mengerti apa gunanya mempelajari Al-Qur”an dan Hadist, bukan hanya mengerti
arti tapi juga melaksanakan apa yang di ajarkan dalam Al-Qur”an dan Hadist itu
sendiri. Hal inilah yang menjadi motivasi utama penulis untuk melakukan
penelitian lebih lanjut tentang nilai-nilai pendidikan Islam dalam sebuah karya
sastra.
B.
Rumusan
Masalah
Dari
uraian latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa pokok permasalahan
yang selanjutnya akan dibahas dalam skipsi ini, yaitu :
1. Nilai-nilai
pendidikan Islam apa saja yang terkandung dalam syair Siir Tanpo Waton karangan
KH. Muhammad Nizam As-Shofa (Gus Nizam)?.
2. Bagaimana
relevansi nilai-nilai pendidikan Islam dalam syair Siir Tanpo Waton dengan
pendidikan islam pada zaman mendatang?.
C.
Tujuan
dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan
Penelitian
a. Untuk
mengetahui nilai-nilai pendidikan islam yang terkandung dalam syair Siir Tanpo
Waton dan relefansinya bagi pendidikan Islam.
b. Untuk
mengkaji dan meneliti terhadap syair Siir Tanpo Waton karangan KH. Muhammad
Nizam As-shofa (Gus Nizam).
2. Kegunaan
Penelitian
a. Penelitian
ini diharapkan bisa bermanfaat dalam upaya penyempurnaan pendidikan islam
melalui karya sastra, sehingga diharap lebih memudah dalam upaya mencapai
tujuan pendidikan Islam.
b. Sebagai
bahan perbandingan bagi para pendidik dalam menjalankan kewajibannya sebagai
tenaga edukatif.
c. Memberikan
kontribusi pemikiran tentang pendidikan kepada almamater khususnya, pendidikan
dan pihak-pihak yang berminat dalam upaya pengembangan pendidikan Islam pada
umumnya.
D.
Kajian
Pustaka
Manusia
adalah mahluk yang sempurna yang di ciptakan oleh Allah yang banyak kelebihan
dari makhluk-makhluk ciptaan Allah yang lainnya. Kelebihan itu adalah manusia
mempunyai akal, intuisi dan daya imajinasi, sehingga manusia mampu menciptakan
kebudayaan yang beragam dan peradaban termasuk karya sastra.
Sudah
banyak karya sastra yang diciptakan manusia. Dari sana muncul kritik dan
pemaknaan sebagai konsekuensi dalam upanya mengetahui pesan-pesan di dalamnya,
sebab bahasa sastra mempunyai keikhasan dalam menyampaikan pesan-pesan yang ingin
pengarang sampaikan kepada orang lain.
Beberapa
kritikan dalam sastra banyak ditemukan berbagai literatur dalam skripsi, buku,
majalah, dan lain sebagainya. Beberapa literatur yang yang penulis temukan
dalam kaitannya dengan skipsi ini antara lain :
Skipsi
yang berjudul “Nilai-nilai Pendidikan Akhlak Dalam Syair Nasehat KH. R.
Asnawi”, karya Ashfal Maula, mahasiswa Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga ini
meneliti tentang nilai pendidikan Akhlak yang terkandung pada Syair Nasehat
karya KH. R. Asnawi.[10]
Bahwa Syair lagu ciptaan KH. R. Asnawi banyak mengandung pendidikan akhlak yang
relefan untuk kurikulum. Tapi karena syair itu berbentuk bahasa jawa jadi kita
harus mampu mengartikannya dalam bahasa Indonesia agar kita mampu untuk
menerapkannya dalam dunia pendidikan yang ada dalam Negara kita.
Skipsi
berjudul “Nilai-nilai Pendidikan Islam Dalam Syair-syair Lagu Roma Irama” yang
di tulis oleh Sukron Ma’mun, mahasiswa Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga ini
meneliti tentang nilai-niali pendidikan Islam dalam syair-syair lagu Roma
Irama.[11]
Skipsi ini berkesimpulan bahwa pendidikan islam bukan hanya kita dapat dalam
bangku sekolah tapi juga dari lingkungan kita. Skipsi ini juga mempunyai
kesimpulan bahwa syair lagu pun dapat menjadi media dakwah yang baik dalam
masyarakat. Karena pada dasarnya manusia mempunyai rasa bosan dengan sesuatu
yang hanya itu-itu saja. Mungkin dengan metode syair lagu maka masyarakat akan
lebih mudah untuk memahami artinya.
Dilihat
dari kajiannya, beberapa penelitian di atas berbeda dengan penelitian yang
peneliti sajikan dalam skipsi ini, karena penelitian ini membahas tentang syair
yang benar-benar di buat untuk berdakwah di kalangan Umat Islam yang ada. Syair
ini pun di buat dengan bahasa-bahasa yang mudah untuk di pahami dan berisi
ajaran tarekat islam dan di perjelas dengan semua yang terjadi di lingkungan saat ini dan yang akan datang.
E.
Landasan
teori
Dalam
penelitian ini penulis menggunakan media pendidikan sebagai landasan teori.
Kata media berasal dari bahasa latin dan berupa bentuk jamak dari kata
medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim
ke penerima pesan.[12]
Banyak batasan yang diberikan orang tentang media. Asosiasi teknologi dan
komunikasi pendidikan di amerika membatasi media sebagai segala bentuk dan
saluran yang di gunakan orang untuk menyalurkan pesan dan informasi. Gagne
(1970) menyatakan bahwa media adalah sebagai jenis komponen dalam lingkungan
siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sementara itu di kutip dari Briggs
(1970) berpendapat bahwa media adalah segala fisik yang dapat menyajikan pesan
serta merangsang siswa untuk belajar. Buku, film, kaset, dan film bingkai
adalah contoh-contohnya.[13]
Dari beberapa contoh media tersebut, dalam penelitian ini mengambil salah
satunya yakti berupa kaset. Kaset tersebut adalah kaset lagu yang berisikan
solawat yang berjudul Siir Tanpo Waton karya Gus Nizam. Dalam syair lagu Siir
Tanpo Waton karya Gus Nizam banyak terdapat nilai pendidikan agama Islam yang
dapat dijadikan sebagai media pembelajaran baik dirumah, sekolah maupun
lingkungan masyarakat. Dengan syair tersebut Gus Nizam berusaha menyampaikan
pesan-pesan ajaran agama islam dan semua yang terjadi dalam masyarakat.
Para
ahli sering menyebutkan bahwa pendidikan Islam sebagai pendidikan nilai, yaitu
upaya menstranformasikan nilai-nilai yang terkandung dalam pokok-pokok ajaran
islam ke dalam kepribadian peserta didik agar menjadi insan kamil.
Konsep-konsep tersebut antara lain :
1. Nilai
Nilai adalah suatu pola normatif yang menentukan tingakah
laku yang diinginkan bagi suatu system yang ada kaitannya dengan lingkungan
sekitar tanpa membedakan fungsinya pemeliharaan dari suatu sistem sosial serta
pengembangan pribadi seseorang tentang pola keyakinan yang terdapat dalam
sistem keyakinan suatu masyarakat tentang hal baik yang harus dilakukan dan hal
buruk yang harus dihindari. Nilai-nilai hidup dalam masyarakat sangat banyak
jumlahnya sehingga pendidikan berusaha membantu untuk mengenali, memilih, dan
menetapkan nilai-nilai tertentu sehingga dapat digunakan sebagai landasan
pengambilan keputusan untuk berperilaku secara konsisten dan menjadi kebiasaan
dalam hidup bermasyarakat.[14]
Konsepsi Islam dalam sistem nilai
mencangkup tiga komponen nilai (norma), yaitu:
a. Norma
Aqidah atau norma keimanan (iman kepada Allah, malaikat, Al-Qur’an, Rasul, hari
kiamat dan takdir)
b. Norma
Syari’ah yang mencangkup norma ibadah dalam arti khusus maupun luas (mencangkup
aspek sosial) seperti:
1). Perumusan sistem norma-norma kemasyarakatan.
2). Sistem organisasi ekonomi.
3). Sistem organisasi kekuasaan.
c. Norma
Akhlak, bersifat vertikal (Hablun Min Allah) dan horizontal (Hablun
Min An-Nas; tata karma sosial)
2. Pendidikan
Agama Islam
Pada
hakekatnya manusia adalahmakhluk yang dilahirkan dalam keadaan lemah dan tak
berdaya, namun demikian ia telah mempunyai potensi bawaan yang bersifat laten. Dalam
perkembangannya manusia dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan, dan salah
satu sifat hakiki manusia adalah mencapai kebahagiaan. Menurut Tabataba’i,
untuk mencapai kebahagiaan itu manusia membutuhkan agama.[15]
Sejak
dilahirkan anak membawa fitrah beragama. Fitrah ini baru berfungsi melalui
proses bimbingan dan latihan. Dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum ayat 30, Allah
berfirman:
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pkön=tæ 4 w @Ïö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 Ï9ºs ÚúïÏe$!$# ÞOÍhs)ø9$# ÆÅ3»s9ur usYò2r& Ĩ$¨Z9$# w tbqßJn=ôèt ÇÌÉÈ
Artinya
:
Maka hadapkanlah wajahmu
dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah
menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah.
(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Ar-Rum:
30).[16]
Jika
para tokoh barat secara umum merancang pendidikan sekuler pada anak, sebaliknya
Islam sejak abad ke-7 telah mensosialisasiakan ajaran yang serba religious.
Pendapat John Locke, sesungguhnya sepuluh abad sebelumnya bisa di temukan dalam
Hadhis Nabi yang berbunyi “setiap anak lahir dalam keadaan putih bersih,
fitrah kedua orang tuanya mendisainnya sebagai yahudi, nasrani atau majusi”.
Pemikiran nabi tersebut diikuti oleh tokoh-tokoh besar dalam pendidikan Islam
seperti Ibnu Maskawaih, Ibnu Hazm, dan Imam Ghazali yang banyak menulis tentang
akhlak dan pendidikan.[17]
Pendidikan
agama Islam merupakan sistem pendidikan untuk melatih anak didik dengan
sedemikian rupa sehingga dalam sikap, hidup, tindakan, dan pendekatannya
terhadap segala jenis pengetahuan banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai spiritual
yang sangat sadar oleh nilai etika Islam. mentalnya dilatih sehingga keinginan
mendapat pengetahuan bukan semata-mata untuk memuaskan keingintahuan
intelektualnya saja, atau hanya untuk memperoleh keuntungan material semata.
Melainkan untuk mengembangkan dirinya menjadi makhluk rasional yang berbudi
luhur serta melahirkan kesejahteraan spiritual, mental, fisik bagi keluarga,
bangsa, dan seluruh umat manusia.[18]
Pada
hakekatnya pendidikan agama islam adalah pendidikan yang bertujuan untuk
membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik
yang berbentuk jasmaniah maupun rohaniah, menumbuh suburkan hubungan harmonis
setiap pribadi dengan Allah, manusia dan alam semesta. Dengan demikian,
pendidikan agama Islam itu berupaya untuk mengembangkan individu sepenuhnya.
Al-Qur’an
meletakkan kedudukan manusia sebagai khalifah Allah di bumi. Esensi makna
khalifah adalah orang yang diberi amanah oleh Allah untuk memimpin alam. Dalam
hal ini manusia bertugas untuk memelihara dan memanfaatkan alam guna
mendatangkan kemaslahatan bagi umat.
Agar
manusia dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah secara maksimal, maka
sudah semestinya manusia memiliki potensi yang menompangnya untuk mewujudkan
dan memenuhi tanggung jawab sebagai khalifah tersebut. Potensi tersebut
meliputi potensi jasmani dan rohani.
Potensi
jasmani meliputi seluruh organ jasmaniah yang berwujud nyata. Sedangkan potensi
rohaniah bersifat spiritual, yang menurut Hasan Langgulung terdiri dari fitrah,
roh, kemauan bebas, dan akal. Sedangkan Asy-Syaibani menyatakan bahwa, manusia
itu meliputi potensi yang meliputi badan, akal, dan roh. Ketiga-tiganya persis
segitiga yang sama panjang sisi-sisinya. Selanjutnya Zakiah Darajat
mengemukakan bahwa potensi spiritual manusia meliputi dimensi akidah, akal,
akhlak, perasaan (hati), keindahan, dan dimensi sosial.
Selain
itu, Al-Qur’an juga menjelaskan tentang potensi rohaniah lainnya, yakni al-qalb,
aqlu an ruh, an-nafs. Dengan bermodalkan potensi-potensi yang dimilikinya
itulah manusia mereslisasi fungsinya sebagai khalifah Allah di bumi yang
bertugas untuk memakmurkannya.
Menurut Drs. Ahmad D.
Marimba: Pendidikan Agama Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan
huku-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut
ukuran-ukuran Islam. dengan pengertian yang lain sering kali beliau mengatakan
kepribadian utama tersebut dengan istilah “kepribadian muslim”, yaitu
kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih, memutuskan, berbuat
dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.[19]
Sedangkan menurut Prof.
Dr. Omar Muhammad Al-Touny Al-Syaebani, pendidikan agama Islam diartikan
sebagai usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau
kehidupan masyarakatnya dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses
kependidikan.[20]
Dari
pernyataan di atas maka jelaslah bahwa proses pendidikan merupakan rangkaian
usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia yang berupa
kemampuan-kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sehingga menjadikan perubahan
di dalam kehidupan pribadinya sebagai makhluk individual dan social serta dalam
hubungannya dengan alam sekitar dimana ia hidup. Proses terserbut senantiasa
berada dalam nilai-nilai Islam, yaitu nilai-nilai yang melahirkan norma-norma
aqidah, ibadah dan akhlaq.
3. Nilai-nilai
Pendidikan Islam
Jika menelaah kembali pengertian pendidikan
Islam, terdapat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, yaitu:
a. Nilai
Aqidah (keyakinan) berhubungan secara vertikal dengan Allah SWT (Hablun Min
Allah)
b. Nilai
Syari’ah (pengalaman) implementasi dari aqidah hubungan horizontal dengan
manusia (Hablun Min an-Naas).
c. Nilai
Akhlaq (etika vertika horizontal) yang merupakan aplikasi dari aqidah dan
muamalah.
Menurut Zakiah Drajat salah satu
dari empat nilai pokok yang ingin disampaikan melalui proses pendidikan Islam
yaitu nilai-nilai esensial.[21]
d. Nilai
Esensial adalah nilai yang mengajarkan bahwa ada kehidupan lain setelah
kehidupan di dunia ini, untuk memperoleh kehidupan ini perlu ditempuh cara-cara
yang diajarkan agama yatiu lewat pemeliharaan hubungan yang baik dengan Allah
dan sesama manusia. Jadi, peneliti dapat menyimpulkan bahwa ada dua nilai yang
akan ingin ditanamkan melalui proses pendidikan dalam ajaran agama Islam yaitu:
nilai tentang ketaatan kepada Allah SWT dan nilai yang mengatur hubungan sesama
manusia.
Dalam konteks ini, nilai yang dimaksudkan adalah
nilai-nilai keislaman yang bersumber dari ajaran Islam. Beberapa penerapan
langsung dalam konteks Pendidikan Islam adalah nilai-nilai yang mewujud dalam
konsep ahlaqul karimah.
Sementara itu, pendidikan Islam adalah bimbingan
terhadap pertumbuhan jiwa rohani dan jasmani seseorang menurut ajaran Islam
dengan hikmah, mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengawasi berlakunya suatu
ajaran. Pendidikan Islam diartikan sebagai usaha mengubah tingkah laku individu
dalam kehidupan pribadi, social, serta alam sekitarnya, melalui proses
pendidikan yang dilandasi dengan nilai-nilai islami. Dengan kata lain,
pendidikan Islam adalah proses transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan
dan nilai-nilai pada diri anak melalui penumbuhan dan pengembangan potensi
fitrahnya guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup dalam segala
aspeknya.
Dari definisi diatas, maka pendidikan Islam
merupakan transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai pada
anak didik melalui penumbuhan dan pengembangan rohani dan jasmani guna mencapai
keselarasan dan kesempurnaan hidup yang dilandasi nilai-nilai Islami. Adapun
nilai pendidikan tersebut adalah meliputi pikiran, perasaan dan tindakan
manusia bersumber dari konsep tujuan pendidikan Islam. Disini penulis mengasumsikan
bahwa lagu “SIIR TANPO WATON” terdapat nilai-nilai pendidikan Islam.
F.
Metode
Penelitian
1. Pendekatan
Pendekatan yang dipakai dalam
penelitian ini adalah interpretative (penafsiran)
karya. Hal ini berangkat dari sebuah teori yang menyatakan bahwa karya sastra
merupakan pernyataan dunia batin penulis, yang pernyataan tersebut biasanya
berupa gagasan, cinta, rasa, emosi dan ide penulis. Penelitian ini mencoba
mencari tentang nilai-nilai pendidikan dalam syair Siir Tanpo Waton, dan
bagaimana relefansinya dengan nilai-nilai pendidikan Islam itu sendiri.
2. Metode
Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan metode
dokumentasi yaitu penulis menghimpun data dari berbagai literature, baik perpustakaan
maupun tempat-tempat lain, seperti dari warung internet, toko kaset, dan semua
buku yang berkaitan dengan nilai-nilai pendidikan.
3. Metode
Analisis Data
Setelah data terkumpul, kemudian di
analisis dengan menggunakan metode analisis semiotic dan analisis deskriptif.
Analisis semiotik yaitu analisis data yang menggunakan system tanda yang
memungkinkan suatu karya sastra mempunyai makna.[22]
Menurut Riffaterre analisis semiotik
menempuh tahapan-tahapan sebagai berikut :
a. Tahap
pembacaan (heuristic reading) yang
diawali dengan memahami arti kata berdasarkan kemampuan.
b. Tahap
interpretasi (retroactive reading)
untuk mendapatkan makna karya sastra.[23]
Dalam skipsi ini penulis menyimak
dan memahami sayir Siir Tanpo Waton yang berdasarkan artinya secara umum,
kemudian mengurai makna yang dikandungnya berdasarkan nilai-nilai Pendidikan
Islam.
Sedangkan analisis deskriptif yaitu
memberikan gambaran dan melaporkan apa adanya dengan proses analisis dari
data-data yang diperoleh dari hasil penelitian.[24] Dalam
konteks ini penulis mendeskripsikan syair Siir Tanpo Waton untuk menentukan
karakteristik pesan, yang dilakukan secara obyektif dan sistematis.
G.
Sistematika
Pembahasan
Untuk
memberikan gambaran pembahasan secara menyeluruh dan sistematis dalam skipsi
ini, akan dideskripsikan sebagai berikut :
Bagian
awal yang berisi cover, nota dinas, halaman pengesahan, motto, halaman
persembahan, kata pengantar, dan daftar isi. Bagian utama yang merupakan inti
dari skipsi terdiri atas beberapa bab, yaitu :
Bab
I meliputi : Pendahuluan, yang berisi uraian tentang latar belakang pemilihan
masalah, pembatasan dan rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, kajian
pustaka, metode peneliotian, sistematika penulisan.
Bab
II penulis membahas tentang biografi tokoh KH. Muhammad Nizam As-Shofa (Gus
Nizam), latar belakang social, karya-karya serta keperdulian terhadap dunia
pendidikan.
Bab
III penulis mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan Islam, yang meliputi
pengertian umum, komponen dasar dan nilai-nilai pendidikan Islam.
Bab
IV dilakukan analisis terhadap syair Siir Tanpo Waton dengan menggunakan metode
semiotic untuk menentukan pesan-pesan yang dikandung serta membahas
relevansinya dengan pendidikan Islam.
Bab
V merupakan penutup, berisi kesimpulan hasil penelitian dan kata penutup.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdurrahman Mas’ud dkk, Paradigma
Pendidikan Agama Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001
Al-Abrasyi,
Muhammad Athiyah. Dasar-dasar Pendidikan
Islam. terj. Tasarun Sulaiman. Ponorogo: PSIA, 1992
Arifin,
Syamsul. Piritualitas Islam dan Peradaban
Masa Depan. Cet. I. Yogyakarta: Sipress, 1996
Bukhari
Umar. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta:
Amzah, 2010
Daradjat,
Zakariah, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara. 2006
Departemen Agama
RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (juz 1-30), Surabaya: Karya Agung, 2006
Faisal,
Jusuf Amir. Reorientasi Pendidikan Islam,
Jakarta: Gema Insani Press, 1995
http://www.harianbangsa.com
Ma’mun,
Sukron, Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Syair-syair Lagu Roma Irama, (Skipsi
Sarjana Stata 1 Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2003)
Maula,
Ashfal, Nilai-nilai Pendidikan Akhlak Dalam Syair Nasehat KH. R. Asnawi (Skipsi
Sarjana Stata 1 Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, 2005).
Muklas,
Abdul Munir. Paradikma Intelektual Muslim,
Yogyakarta: Sipress, 1993
Muzayyin, Filsafat Pendidikan
agama Islam, Jakarta: Bumi Aksara
Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan
Agama Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1998
Riffaterre,
Michael. Semiotic of Poetry,
Blomington and London: Indiana University Press, 1978
Siswoyo.
Ilmu Sosial Dasar. Jakarta:
Indonesia, 1992
Suharsimi
Arikunto. Prosedur Penelitian.
Jakarta: Rineka Cipta, 1993
Zuhairi
dkk, Filsafat Pendidikan Islam,
Jakarta: Bumi Aksara, 1992
[1] Abdul Munir
Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim,
(Yogyakarta: Simpress, 1993), hal. 213
[2] Zuhairini Dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta:
Bumi Aksara,1992), hal. 92
[3] Agung Nuryatno, Mazhab Pendidikan Kritis, (Yogyakarta:
Resist Book, 2011) hal. 2
[4] Jusuf Amir
Faisal, Reorientasi Pendidikan Islam,
(Jakarta: Gema Insani, 1995) , hal. 110
[5] Syamsul Arifin
dkk, Spiritualitas Islam dan Peradaban
Masa Depan, cet. I, (Yogyakarta: Sipress, 1996), hal. 158
[6] Muhammad Athiyah
al-Abrasyi, Dasar-dasar Pendidikan Islam,
terj. Tasirun Sulaiman, (ponorogo: PSIA, 1992) hal. 7
[8]
Ibid,..
[9]
Ibid,..
[10] Ashfal Maula,
Nilai-nilai Pendidikan Akhlak Dalam Syair Nasehat KH. R. Asnawi (mahasiswa
fakultas tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2005)
[11] Sukron Ma’mun,
Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Syair-syair Lagu Roma Irama, (Skipsi Sarjana
Stata 1 Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2003).
[12] Arif S. Sadiman, dkk. Media Pendidikan,
(Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2008), hal. 6
[13] Ibid,..
[14] Nurul zuriah, Pendidikan Moral & Budi
Pekerti dalam Perspektif Perubahan, (Jakarta: Bumi Aksara), hal. 19.
[15] Abdurrahman Mas’ud dkk, Paradigma
Pendidikan Agama Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), hal. 219.
[16] DEPAG RI, Al-Qur’an
dan Terjemahnya (juz 1-30), (Surabaya: Karya Agung), hal. 574.
[18] Ibid hal.79
[19] Nur Uhbiyati, Ilmu
Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), hal. 9.
[20] Muzayyin, Filsafat
Pendidikan agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara), hal. 15.
[21] Zakariah
Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (bumi aksara. Jakarta :2006) hal.
[22] Michael
Riffaterre, Semiotic Of Poetry,
(Blomington and London: Indiana University Press, 1978), hal. 4-5
[23] Ibid, hal. 13
[24] Suharsini
Arikunto, Prosedur Penelitian
(Jakarta: Rineka Cipta, 1993), hal. 115