Selasa, 16 April 2013

proposal skipsi syiir tanpo waton


NILAI - NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM SYAIR LAGU “SIIR TANPO WATON” KARYA KH. MUHAMMAD NIZAM AS-SHOFA.


 PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Guna Memenuhi Persyartan Penyusunan Skripsi
Disusun Oleh:
MUHAMMAD HIJRAH TANJUNG
NIM: 08410075


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2013



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Era globalisasi yang kini sedang berlangsung telah memperhasilkan kemajuan disegala bidang. Gerak dan mekanismenya ilmu pengetahuan melaju begitu cepat, perkembangan informasi dan komunikasi semakan canggih. Namun harus diakui era globalisasi juga membawa imbas negative bersamaan dengan tujuan positif yang ingin di capai. Hal ini karena era globalisai atau era keterbukaan sehingga akulturasi budaya mudah sekali terjadi. Masyarakat sulit sekali menyaring budaya barat yang masuk, sedang budaya tersebut belum tentu baik. Akibatnya terjadilah kemerosotan moral. Selanjutnya munculah pola kehidupan yang jauh dari nilai-nilai dan etika, terjadi kesenjangan ekonomi, pola hidup permisif, individualis, hedonis, dan lain-lain.
Sebagoi contoh kenakalan remaja di dalam lingkungan kita saja sudah banyak, itu karena kurangnya peran orang tua dalam memberikan pembelajaran agama kepada anaknya. Dengan itulah di butuhkan peran orang tua dalam mengajarkan ibadah agar anak tidak mudah terjerumus dalam pergaulan bebas yang telah marak di lingkungan kita saat ini.
Menghadapi realitas di atas, pendidikan harus tampil sebagai caunter sekaligus bertanggung jawab mewujutkan masyarakat yang didalamnya tercermin nilai-nilai dan etika yang di junjung tinggi. Hal ini sesuai misi yang dibawa oleh pendidikan itu sendiri yaitu membangun manusia yang utuh, manusia yang seimbang jasmani dan rohaninya, manusia yang mempunyai moral dan akhlak yang baik bagi dirinya maupun orang lain.
Dalam konteks islam, arah pendidikan terdiri dari intelektualitas, moralitas dan profesionalitas.[1]
Intelektualitas adalah orang yang menggunakan kecerdasan untuk bekerja, membayangkan, belajar, dan menggagas atau menjawab persoalan tentang gagasan.
Moralitas adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan lain-lain; akhlak budi pekerti; dan susila. Kondisi mental yang membuat orang tetap berani; bersemangat; bergairah; berdisiplin dan sebagainya.
Profesionalitas adalah wujud dari upaya optimal untuk memenuhi apa-apa yang telah diucapkan, dengan cara-cara yang tidak merugikan orang lain, sehingga semua tindakannya dapat di terima oleh unsur-unsur yang terkait.
Dengan demikian, maka pendidikan merupakan kebutuhan manusia yang mutlak dibutuhkan.[2] Karena dengan pendidikan agama efek yang datang dari dunia modern akan dibendung atau disaring mana yang baik dan mana yang buruk. Pendidikan bukan suatu yang bebas nilai, melainkan misi syarat yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Karena pada dasarnya pendididikan dilandakan pada suatu pemahaman bahwa pendidikan tidak bisa dipisahkan dari konteks social, cultural, dan politik yang lebih luas.[3]
Usaha pendidikan kalau dijabarkan lebih rinci akan membawa kepada sebuah proyeksi pendidikan ke arah :
1.      Proyeksi ke arah pembinaan ketaqwaan dan akhlakul karimah yang dijabarkan dalam pembinaan kompetensi enam aspek keimanan, lima aspek keislaman dan multi aspek keihsanan.
2.      Mempertinggi kecerdasan dan kemampuan anak didik.
3.      Memasukan pengetahuan dan teknologi beserta manfaat dan aplikasinya.
4.      Meningkatkan kualitas hidup.
5.       Memelihara, mengembangkan serta meningkatkan budaya dan lingkungan sekitar.
6.      Memperluas pandangan hidup sebagai manusia yang komunikatif terhadap keluarga, bangsa, sesama manusia dan mahluk lainnya.[4]
Arah pendidikan di atas menunjukan nilai-nilai ajaran pendidikan islam yang sebenarnya tidak menolak ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada di dalam masyarakat. Karena pendidikan agama senantiasa bersentuhan dengan pengetahuan dan teknologi yang ada.
Tradisi pemikiran islam mengambil sikap terbuka kepada ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sikap kaum muslimin yang spontan menghargai, mengadaptasi dan memanfaatkan ilmu pengetahuan. Namun sikap terbuka itu harus senantiasa diimbangi dengan usaha untuk menjunjung tinggi nilai, harkat dan moralitas kemanusiaan, mengingat ajaran islam sebagai agama kemanusiaan.
Pendidikan Islam adalah sarana penyebaran nilai-nilai agama yang menjadi medium bagi terjadinya transformasi nilai-nilai dan ilmu pengetahuan yang berfungsi sebagai pencetus corak kebudayaan dan peradaban manusia.[5] Pendidikan juga diarahkan sebagai upaya sebagai upaya pengembangan dan pembinaan seluruh potensi manusia tanpa terkecuali dan tanpa prioritas dari jumlah potensi yang ada, sehingga manusia mampu menghadapi tantangan zaman yang akan datang. Maka jelas pendidikan adalah sesuatu yang mutlak yang harus di miliki semua orang di dunia.
Hakekat dari pendidikan adalah akhlak, sebagaimana yang dikatakan Muhammad Athiyah al-Abrasyi bahwa hakikat pendidikan islam adalah seperti apa yang telah di tetapkan dan dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu pembentukan moral yang tinggi tanpa mengabaikan pendidikan jasmani, akal dan ilmu praktis.[6]
Diantara sumber-sumber yang menjadi dasar serta rujukan pendidikan Islam adalah Al-Qur”an dan Al-Hadist. Dari situlah terurai nilai-nilai pendidikan yang hendak di transformasikan kepada semua umat Islam yang ada di dunia ini. Penulis melihat bahwa pendidikan bukan hanya terdapat dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist saja tapi juga dalam karya sastra manusia. Hal ini berangkat dari asumsi bahwa manusia sudah menyisipkan suatu atau banyak nasehat dalam sebuah sastra yang mereka buat. Sedang untuk dapat menemukan pesan apa yang ada dalam sebuah sastra kita harus mampu memahami arti dan maksud dari pengarang membuat karya sastra itu sendiri.
Secara ideal, seorang manusia berkarya bukan saja mencerminkan situasi batin yang kosong, melainkan juga mencerminkan refleksinya terhadap realitas yang ada di kehidupan sehari-hari. Semua itu dialakukan sebagai ekspresi dan motivasi untuk memenuhi kebutuhan beraktualisasi diri. Namun dalam prakteknya, sebuah karya, apapun bentuknya tercipta minimal oleh tiga motivasi utama, yaitu :
a.       Motivasi kearah entertainment, yaitu motivasi yang bertujuan komersil atau berorientasi pasar.
b.      Motivasi estetis-rekreatif yang bertujuan untuk menghibur konsumen.
c.       Motivasi menyampaikan pesan-pesan dan nasehat

Karena sebuah karya sastra juga memiliki dimensi pendidikan, di dalamnya banyak disisipi nasehat. Pendapat inilah yang menjadi pijakan dalam penelitian ini. Pendidikan disini tentunya pendidikan dalam arti luas, yaitu pendidikan tidak hanya dilakukan dalam sebuah lembaga formal, namun juga dilakukan dimana saja dan kapan saja.
Dalam konteks penulisan ini, pendidikan dimaksud yaitu pendidikan melalui syair lagu, yang disampaikan oleh KH. Muhammad Nizam As-shofa atau yang lebih popular dengan nama Gus Nizam.
 Selain dikenal sebagai seorang kyai, Gus Nizam juga sering mendendangkan banyak Sholawat atau syair. Karena dengan sholawat atau syair seseorang akan lebih mudah memahami pesan yang ingin di sampaikan. Hal ini dikarenakan bahasa yang di gunakan lebih mudah untuk di pahami. Sebagai contoh syair berikut:[7]
Ngawiti ingsun nglaras syi’iran
Kelawan muji maring Pengeran
Kang paring rohmat lan kenikmatan
Rino wengine tanpo pitungan 2X

Duh bolo konco priyo wanito
Ojo mung ngaji syareat bloko
Gur pinter ndongeng nulis lan moco
Tembe mburine bakal sengsoro 2X

Artinya :

Aku memulai menembangkan syi’ir
Dengan memuji kepada Tuhan
Yang memberi rohmat dan kenikmatan
Siang dan malamnya tanpa terhitung

Wahai para teman pria dan wanita
Jangan hanya belajar syari’at saja
Hanya pandai bicara, menulis dan membaca
Esok hari bakal sengsara

Dengan potongan syair di atas, seseorang akan dengan mudah mengerti pesan yang di sampaikan oleh Gus Nizam yang prihatin terhadap realita kehidupan modern dalam masyarakat. Menurut syair itu, masyarakat cenderung belajar membaca tanpa memahami isi dari apa yang dia baca, seperti yang di jelaskan pada syair selanjutnya:[8]
Akeh kang apal Qur’an Haditse
Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dewe dak digatekke
Yen isih kotor ati akale 2X
Artinya :
Banyak yang hapal Qur’an dan Haditsnya
Senang mengkafirkan kepada orang lain
Kafirnya sendiri tak dihiraukan
Jika masih kotor hati dan akalnya

Potongan syair di atas menjelaskan banyaknya orang yang hafal Al-Qur”an dan Hadist tapi belum bisa menganbil intisari dari hadist dan AL-Qur”an itu sendiri. Dan contoh-contoh yang lain akan di jelaskan pada syair selanjutnya.[9]

Gampang kabujuk nafsu angkoro
Ing pepaese gebyare ndunyo
Iri lan meri sugihe tonggo
Mulo atine peteng lan nisto 2X

Ayo sedulur jo nglaleake
Wajibe ngaji sak pranatane
Nggo ngandelake iman tauhide
Baguse sangu mulyo matine 2X

Kang aran sholeh bagus atine
Kerono mapan seri ngelmune
Laku thoriqot lan ma’rifate
Ugo haqiqot manjing rasane 2 X

Al Qur’an qodim wahyu minulyo
Tanpo tinulis biso diwoco
Iku wejangan guru waskito
Den tancepake ing jero dodo 2X

Kumantil ati lan pikiran
Mrasuk ing badan kabeh jeroan
Mu’jizat Rosul dadi pedoman
Minongko dalan manjinge iman 2 X

Kelawan Alloh Kang Moho Suci
Kudu rangkulan rino lan wengi
Ditirakati diriyadohi
Dzikir lan suluk jo nganti lali 2X

Uripe ayem rumongso aman
Dununge roso tondo yen iman
Sabar narimo najan pas-pasan
Kabeh tinakdir saking Pengeran 2X

Kelawan konco dulur lan tonggo
Kang podho rukun ojo dursilo
Iku sunahe Rosul kang mulyo
Nabi Muhammad panutan kito 2x

Ayo nglakoni sakabehane
Alloh kang bakal ngangkat drajate
Senajan asor toto dhohire
Ananging mulyo maqom drajate 2X

Lamun palastro ing pungkasane
Ora kesasar roh lan sukmane
Den gadang Alloh swargo manggone
Utuh mayite ugo ulese 2X

Artinya :

Gampang terbujuk nafsu angkara
Dalam hiasan gemerlapnya dunia
Iri dan dengki kekayaan tetangga
Maka hatinya gelap dan nista

Ayo saudara jangan melupakan)
Wajibnya mengkaji lengkap dengan aturannya)
Untuk mempertebal iman tauhidnya)
Bagusnya bekal mulia matinya

Yang disebut sholeh adalah bagus hatinya)
Karena mapan lengkap ilmunya)
Menjalankan tarekat dan ma’rifatnya)
Juga hakikat meresap rasanya

Al Qur’an qodim wahyu mulia
Tanpa ditulis bisa dibaca
(itulah petuah guru mumpuni                                                                                                                                                           
Ditancapkan di dalam dada

Menempel di hati dan pikiran
Merasuk dalam badan dan seluruh hati
Mukjizat Rosul(Al-Qur’an) jadi pedoman
Sebagai sarana jalan masuknya iman

Kepada Alloh Yang Maha Suci
Harus mendekatkan diri siang dan malam
Diusahakan dengan sungguh-sungguh secara ihlas
Dzikir dan suluk jangan sampai lupa

Hidupnya tentram merasa aman
Mantabnya rasa tandanya beriman
Sabar menerima meski hidupnya pas-pasan
Semua itu adalah takdir dari Tuhan

Terhadap teman, saudara dan tetangga
Yang rukunlah jangan bertengkar
Itu sunnahnya Rosul yang mulia
Nabi Muhammad tauladan kita

Ayo jalani semuanya
Allah yang akan mengangkat derajatnya
Walaupun rendah tampilan dhohirnya
Namun mulia maqam derajatnya di sisi Allah)

Ketika ajal telah datang di akhir hayatnya
Tidak tersesat roh dan sukmanya
Dirindukan Allah surga tempatnya
Utuh jasadnya juga kain kafannya

Begitulah kira-kira syair lagu yang dibawakan Gus Nizam beserta santri-santrinya yang dipandang memiliki kelebihan dan keistimewaan. Dari syair itu masyarakat dapat mengerti apa gunanya mempelajari Al-Qur”an dan Hadist, bukan hanya mengerti arti tapi juga melaksanakan apa yang di ajarkan dalam Al-Qur”an dan Hadist itu sendiri. Hal inilah yang menjadi motivasi utama penulis untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang nilai-nilai pendidikan Islam dalam sebuah karya sastra.

B.     Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa pokok permasalahan yang selanjutnya akan dibahas dalam skipsi ini, yaitu :
1.      Nilai-nilai pendidikan Islam apa saja yang terkandung dalam syair Siir Tanpo Waton karangan KH. Muhammad Nizam As-Shofa (Gus Nizam)?.
2.      Bagaimana relevansi nilai-nilai pendidikan Islam dalam syair Siir Tanpo Waton dengan pendidikan islam pada zaman mendatang?.

C.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
a.       Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan islam yang terkandung dalam syair Siir Tanpo Waton dan relefansinya bagi pendidikan Islam.
b.      Untuk mengkaji dan meneliti terhadap syair Siir Tanpo Waton karangan KH. Muhammad Nizam As-shofa (Gus Nizam).
2.      Kegunaan Penelitian
a.       Penelitian ini diharapkan bisa bermanfaat dalam upaya penyempurnaan pendidikan islam melalui karya sastra, sehingga diharap lebih memudah dalam upaya mencapai tujuan pendidikan Islam.
b.      Sebagai bahan perbandingan bagi para pendidik dalam menjalankan kewajibannya sebagai tenaga edukatif.
c.       Memberikan kontribusi pemikiran tentang pendidikan kepada almamater khususnya, pendidikan dan pihak-pihak yang berminat dalam upaya pengembangan pendidikan Islam pada umumnya.

D.    Kajian Pustaka
Manusia adalah mahluk yang sempurna yang di ciptakan oleh Allah yang banyak kelebihan dari makhluk-makhluk ciptaan Allah yang lainnya. Kelebihan itu adalah manusia mempunyai akal, intuisi dan daya imajinasi, sehingga manusia mampu menciptakan kebudayaan yang beragam dan peradaban termasuk karya sastra.
Sudah banyak karya sastra yang diciptakan manusia. Dari sana muncul kritik dan pemaknaan sebagai konsekuensi dalam upanya mengetahui pesan-pesan di dalamnya, sebab bahasa sastra mempunyai keikhasan dalam menyampaikan pesan-pesan yang ingin pengarang sampaikan kepada orang lain.
Beberapa kritikan dalam sastra banyak ditemukan berbagai literatur dalam skripsi, buku, majalah, dan lain sebagainya. Beberapa literatur yang yang penulis temukan dalam kaitannya dengan skipsi ini antara lain :
Skipsi yang berjudul “Nilai-nilai Pendidikan Akhlak Dalam Syair Nasehat KH. R. Asnawi”, karya Ashfal Maula, mahasiswa Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga ini meneliti tentang nilai pendidikan Akhlak yang terkandung pada Syair Nasehat karya KH. R. Asnawi.[10] Bahwa Syair lagu ciptaan KH. R. Asnawi banyak mengandung pendidikan akhlak yang relefan untuk kurikulum. Tapi karena syair itu berbentuk bahasa jawa jadi kita harus mampu mengartikannya dalam bahasa Indonesia agar kita mampu untuk menerapkannya dalam dunia pendidikan yang ada dalam Negara kita.
Skipsi berjudul “Nilai-nilai Pendidikan Islam Dalam Syair-syair Lagu Roma Irama” yang di tulis oleh Sukron Ma’mun, mahasiswa Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga ini meneliti tentang nilai-niali pendidikan Islam dalam syair-syair lagu Roma Irama.[11] Skipsi ini berkesimpulan bahwa pendidikan islam bukan hanya kita dapat dalam bangku sekolah tapi juga dari lingkungan kita. Skipsi ini juga mempunyai kesimpulan bahwa syair lagu pun dapat menjadi media dakwah yang baik dalam masyarakat. Karena pada dasarnya manusia mempunyai rasa bosan dengan sesuatu yang hanya itu-itu saja. Mungkin dengan metode syair lagu maka masyarakat akan lebih mudah untuk memahami artinya.
Dilihat dari kajiannya, beberapa penelitian di atas berbeda dengan penelitian yang peneliti sajikan dalam skipsi ini, karena penelitian ini membahas tentang syair yang benar-benar di buat untuk berdakwah di kalangan Umat Islam yang ada. Syair ini pun di buat dengan bahasa-bahasa yang mudah untuk di pahami dan berisi ajaran tarekat islam dan di perjelas dengan semua yang terjadi di  lingkungan saat ini dan yang akan datang.

E.     Landasan teori
Dalam penelitian ini penulis menggunakan media pendidikan sebagai landasan teori. Kata media berasal dari bahasa latin dan berupa bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.[12] Banyak batasan yang diberikan orang tentang media. Asosiasi teknologi dan komunikasi pendidikan di amerika membatasi media sebagai segala bentuk dan saluran yang di gunakan orang untuk menyalurkan pesan dan informasi. Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah sebagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sementara itu di kutip dari Briggs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Buku, film, kaset, dan film bingkai adalah contoh-contohnya.[13] Dari beberapa contoh media tersebut, dalam penelitian ini mengambil salah satunya yakti berupa kaset. Kaset tersebut adalah kaset lagu yang berisikan solawat yang berjudul Siir Tanpo Waton karya Gus Nizam. Dalam syair lagu Siir Tanpo Waton karya Gus Nizam banyak terdapat nilai pendidikan agama Islam yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran baik dirumah, sekolah maupun lingkungan masyarakat. Dengan syair tersebut Gus Nizam berusaha menyampaikan pesan-pesan ajaran agama islam dan semua yang terjadi dalam masyarakat.
Para ahli sering menyebutkan bahwa pendidikan Islam sebagai pendidikan nilai, yaitu upaya menstranformasikan nilai-nilai yang terkandung dalam pokok-pokok ajaran islam ke dalam kepribadian peserta didik agar menjadi insan kamil. Konsep-konsep tersebut antara lain :
1.      Nilai
Nilai adalah suatu pola normatif yang menentukan tingakah laku yang diinginkan bagi suatu system yang ada kaitannya dengan lingkungan sekitar tanpa membedakan fungsinya pemeliharaan dari suatu sistem sosial serta pengembangan pribadi seseorang tentang pola keyakinan yang terdapat dalam sistem keyakinan suatu masyarakat tentang hal baik yang harus dilakukan dan hal buruk yang harus dihindari. Nilai-nilai hidup dalam masyarakat sangat banyak jumlahnya sehingga pendidikan berusaha membantu untuk mengenali, memilih, dan menetapkan nilai-nilai tertentu sehingga dapat digunakan sebagai landasan pengambilan keputusan untuk berperilaku secara konsisten dan menjadi kebiasaan dalam hidup bermasyarakat.[14]
Konsepsi Islam dalam sistem nilai mencangkup tiga komponen nilai (norma), yaitu:
a.       Norma Aqidah atau norma keimanan (iman kepada Allah, malaikat, Al-Qur’an, Rasul, hari kiamat dan takdir)
b.      Norma Syari’ah yang mencangkup norma ibadah dalam arti khusus maupun luas (mencangkup aspek sosial) seperti:
1). Perumusan sistem norma-norma kemasyarakatan.
2). Sistem organisasi ekonomi.
3). Sistem organisasi kekuasaan.
c.       Norma Akhlak, bersifat vertikal (Hablun Min Allah) dan horizontal (Hablun Min An-Nas; tata karma sosial)

2.      Pendidikan Agama Islam
Pada hakekatnya manusia adalahmakhluk yang dilahirkan dalam keadaan lemah dan tak berdaya, namun demikian ia telah mempunyai potensi bawaan yang bersifat laten. Dalam perkembangannya manusia dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan, dan salah satu sifat hakiki manusia adalah mencapai kebahagiaan. Menurut Tabataba’i, untuk mencapai kebahagiaan itu manusia membutuhkan agama.[15]
Sejak dilahirkan anak membawa fitrah beragama. Fitrah ini baru berfungsi melalui proses bimbingan dan latihan. Dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum ayat 30, Allah berfirman:
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $Zÿ‹ÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏ‰ö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ
Artinya :
 Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Ar-Rum: 30).[16]

Jika para tokoh barat secara umum merancang pendidikan sekuler pada anak, sebaliknya Islam sejak abad ke-7 telah mensosialisasiakan ajaran yang serba religious. Pendapat John Locke, sesungguhnya sepuluh abad sebelumnya bisa di temukan dalam Hadhis Nabi yang berbunyi “setiap anak lahir dalam keadaan putih bersih, fitrah kedua orang tuanya mendisainnya sebagai yahudi, nasrani atau majusi”. Pemikiran nabi tersebut diikuti oleh tokoh-tokoh besar dalam pendidikan Islam seperti Ibnu Maskawaih, Ibnu Hazm, dan Imam Ghazali yang banyak menulis tentang akhlak dan pendidikan.[17]
Pendidikan agama Islam merupakan sistem pendidikan untuk melatih anak didik dengan sedemikian rupa sehingga dalam sikap, hidup, tindakan, dan pendekatannya terhadap segala jenis pengetahuan banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai spiritual yang sangat sadar oleh nilai etika Islam. mentalnya dilatih sehingga keinginan mendapat pengetahuan bukan semata-mata untuk memuaskan keingintahuan intelektualnya saja, atau hanya untuk memperoleh keuntungan material semata. Melainkan untuk mengembangkan dirinya menjadi makhluk rasional yang berbudi luhur serta melahirkan kesejahteraan spiritual, mental, fisik bagi keluarga, bangsa, dan seluruh umat manusia.[18]
Pada hakekatnya pendidikan agama islam adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmaniah maupun rohaniah, menumbuh suburkan hubungan harmonis setiap pribadi dengan Allah, manusia dan alam semesta. Dengan demikian, pendidikan agama Islam itu berupaya untuk mengembangkan individu sepenuhnya.
Al-Qur’an meletakkan kedudukan manusia sebagai khalifah Allah di bumi. Esensi makna khalifah adalah orang yang diberi amanah oleh Allah untuk memimpin alam. Dalam hal ini manusia bertugas untuk memelihara dan memanfaatkan alam guna mendatangkan kemaslahatan bagi umat.
Agar manusia dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah secara maksimal, maka sudah semestinya manusia memiliki potensi yang menompangnya untuk mewujudkan dan memenuhi tanggung jawab sebagai khalifah tersebut. Potensi tersebut meliputi potensi jasmani dan rohani.
Potensi jasmani meliputi seluruh organ jasmaniah yang berwujud nyata. Sedangkan potensi rohaniah bersifat spiritual, yang menurut Hasan Langgulung terdiri dari fitrah, roh, kemauan bebas, dan akal. Sedangkan Asy-Syaibani menyatakan bahwa, manusia itu meliputi potensi yang meliputi badan, akal, dan roh. Ketiga-tiganya persis segitiga yang sama panjang sisi-sisinya. Selanjutnya Zakiah Darajat mengemukakan bahwa potensi spiritual manusia meliputi dimensi akidah, akal, akhlak, perasaan (hati), keindahan, dan dimensi sosial.
Selain itu, Al-Qur’an juga menjelaskan tentang potensi rohaniah lainnya, yakni al-qalb, aqlu an ruh, an-nafs. Dengan bermodalkan potensi-potensi yang dimilikinya itulah manusia mereslisasi fungsinya sebagai khalifah Allah di bumi yang bertugas untuk memakmurkannya.

Menurut Drs. Ahmad D. Marimba: Pendidikan Agama Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan huku-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. dengan pengertian yang lain sering kali beliau mengatakan kepribadian utama tersebut dengan istilah “kepribadian muslim”, yaitu kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih, memutuskan, berbuat dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.[19]

Sedangkan menurut Prof. Dr. Omar Muhammad Al-Touny Al-Syaebani, pendidikan agama Islam diartikan sebagai usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan masyarakatnya dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses kependidikan.[20]

Dari pernyataan di atas maka jelaslah bahwa proses pendidikan merupakan rangkaian usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia yang berupa kemampuan-kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sehingga menjadikan perubahan di dalam kehidupan pribadinya sebagai makhluk individual dan social serta dalam hubungannya dengan alam sekitar dimana ia hidup. Proses terserbut senantiasa berada dalam nilai-nilai Islam, yaitu nilai-nilai yang melahirkan norma-norma aqidah, ibadah dan akhlaq.
3.      Nilai-nilai Pendidikan Islam
Jika menelaah kembali pengertian pendidikan Islam, terdapat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, yaitu:
a.       Nilai Aqidah (keyakinan) berhubungan secara vertikal dengan Allah SWT (Hablun Min Allah)
b.      Nilai Syari’ah (pengalaman) implementasi dari aqidah hubungan horizontal dengan manusia (Hablun Min an-Naas).
c.       Nilai Akhlaq (etika vertika horizontal) yang merupakan aplikasi dari aqidah dan muamalah.
Menurut Zakiah Drajat salah satu dari empat nilai pokok yang ingin disampaikan melalui proses pendidikan Islam yaitu nilai-nilai esensial.[21]
d.      Nilai Esensial adalah nilai yang mengajarkan bahwa ada kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini, untuk memperoleh kehidupan ini perlu ditempuh cara-cara yang diajarkan agama yatiu lewat pemeliharaan hubungan yang baik dengan Allah dan sesama manusia. Jadi, peneliti dapat menyimpulkan bahwa ada dua nilai yang akan ingin ditanamkan melalui proses pendidikan dalam ajaran agama Islam yaitu: nilai tentang ketaatan kepada Allah SWT dan nilai yang mengatur hubungan sesama manusia.

Dalam konteks ini, nilai yang dimaksudkan adalah nilai-nilai keislaman yang bersumber dari ajaran Islam. Beberapa penerapan langsung dalam konteks Pendidikan Islam adalah nilai-nilai yang mewujud dalam konsep ahlaqul karimah.
Sementara itu, pendidikan Islam adalah bimbingan terhadap pertumbuhan jiwa rohani dan jasmani seseorang menurut ajaran Islam dengan hikmah, mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengawasi berlakunya suatu ajaran. Pendidikan Islam diartikan sebagai usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadi, social, serta alam sekitarnya, melalui proses pendidikan yang dilandasi dengan nilai-nilai islami. Dengan kata lain, pendidikan Islam adalah proses transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai pada diri anak melalui penumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya.
Dari definisi diatas, maka pendidikan Islam merupakan transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai pada anak didik melalui penumbuhan dan pengembangan rohani dan jasmani guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup yang dilandasi nilai-nilai Islami. Adapun nilai pendidikan tersebut adalah meliputi pikiran, perasaan dan tindakan manusia bersumber dari konsep tujuan pendidikan Islam. Disini penulis mengasumsikan bahwa lagu “SIIR TANPO WATON” terdapat nilai-nilai pendidikan Islam.

F.     Metode Penelitian
1.      Pendekatan
Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah interpretative (penafsiran) karya. Hal ini berangkat dari sebuah teori yang menyatakan bahwa karya sastra merupakan pernyataan dunia batin penulis, yang pernyataan tersebut biasanya berupa gagasan, cinta, rasa, emosi dan ide penulis. Penelitian ini mencoba mencari tentang nilai-nilai pendidikan dalam syair Siir Tanpo Waton, dan bagaimana relefansinya dengan nilai-nilai pendidikan Islam itu sendiri.
2.      Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan metode dokumentasi yaitu penulis menghimpun data dari berbagai literature, baik perpustakaan maupun tempat-tempat lain, seperti dari warung internet, toko kaset, dan semua buku yang berkaitan dengan nilai-nilai pendidikan.
3.      Metode Analisis Data
Setelah data terkumpul, kemudian di analisis dengan menggunakan metode analisis semiotic dan analisis deskriptif. Analisis semiotik yaitu analisis data yang menggunakan system tanda yang memungkinkan suatu karya sastra mempunyai makna.[22] Menurut Riffaterre analisis semiotik menempuh tahapan-tahapan sebagai berikut :
a.       Tahap pembacaan (heuristic reading) yang diawali dengan memahami arti kata berdasarkan kemampuan.
b.      Tahap interpretasi (retroactive reading) untuk mendapatkan makna karya sastra.[23]
Dalam skipsi ini penulis menyimak dan memahami sayir Siir Tanpo Waton yang berdasarkan artinya secara umum, kemudian mengurai makna yang dikandungnya berdasarkan nilai-nilai Pendidikan Islam.
Sedangkan analisis deskriptif yaitu memberikan gambaran dan melaporkan apa adanya dengan proses analisis dari data-data yang diperoleh dari hasil penelitian.[24] Dalam konteks ini penulis mendeskripsikan syair Siir Tanpo Waton untuk menentukan karakteristik pesan, yang dilakukan secara obyektif dan sistematis.

G.    Sistematika Pembahasan
Untuk memberikan gambaran pembahasan secara menyeluruh dan sistematis dalam skipsi ini, akan dideskripsikan sebagai berikut :
Bagian awal yang berisi cover, nota dinas, halaman pengesahan, motto, halaman persembahan, kata pengantar, dan daftar isi. Bagian utama yang merupakan inti dari skipsi terdiri atas beberapa bab, yaitu :
Bab I meliputi : Pendahuluan, yang berisi uraian tentang latar belakang pemilihan masalah, pembatasan dan rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, kajian pustaka, metode peneliotian, sistematika penulisan.
Bab II penulis membahas tentang biografi tokoh KH. Muhammad Nizam As-Shofa (Gus Nizam), latar belakang social, karya-karya serta keperdulian terhadap dunia pendidikan.
Bab III penulis mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan Islam, yang meliputi pengertian umum, komponen dasar dan nilai-nilai pendidikan Islam.
Bab IV dilakukan analisis terhadap syair Siir Tanpo Waton dengan menggunakan metode semiotic untuk menentukan pesan-pesan yang dikandung serta membahas relevansinya dengan pendidikan Islam.
Bab V merupakan penutup, berisi kesimpulan hasil penelitian dan kata penutup.





















DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman Mas’ud dkk, Paradigma Pendidikan Agama Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001

Al-Abrasyi, Muhammad Athiyah. Dasar-dasar Pendidikan Islam. terj. Tasarun Sulaiman. Ponorogo: PSIA, 1992

Arifin, Syamsul. Piritualitas Islam dan Peradaban Masa Depan. Cet. I. Yogyakarta: Sipress, 1996

Bukhari Umar. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Amzah, 2010

Daradjat, Zakariah, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara. 2006

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (juz 1-30), Surabaya: Karya Agung, 2006

Faisal, Jusuf Amir. Reorientasi Pendidikan Islam, Jakarta: Gema Insani Press, 1995

http://www.harianbangsa.com

Ma’mun, Sukron, Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Syair-syair Lagu Roma Irama, (Skipsi Sarjana Stata 1 Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2003)

Maula, Ashfal, Nilai-nilai Pendidikan Akhlak Dalam Syair Nasehat KH. R. Asnawi (Skipsi Sarjana Stata 1 Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, 2005).

Muklas, Abdul Munir. Paradikma Intelektual Muslim, Yogyakarta: Sipress, 1993

Muzayyin, Filsafat Pendidikan agama Islam, Jakarta: Bumi Aksara

Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Agama Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1998

Riffaterre, Michael. Semiotic of Poetry, Blomington and London: Indiana University Press, 1978

Siswoyo. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Indonesia, 1992

Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta, 1993

Zuhairi dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1992





[1] Abdul Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim, (Yogyakarta: Simpress, 1993), hal. 213
[2] Zuhairini Dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara,1992), hal. 92
[3] Agung Nuryatno, Mazhab Pendidikan Kritis, (Yogyakarta: Resist Book, 2011) hal. 2
[4] Jusuf Amir Faisal, Reorientasi Pendidikan Islam, (Jakarta: Gema Insani, 1995) , hal. 110
[5] Syamsul Arifin dkk, Spiritualitas Islam dan Peradaban Masa Depan, cet. I, (Yogyakarta: Sipress, 1996), hal. 158
[6] Muhammad Athiyah al-Abrasyi, Dasar-dasar Pendidikan Islam, terj. Tasirun Sulaiman, (ponorogo: PSIA, 1992) hal. 7
[7]                             http://www.harianbangsa.com. Di unduh pada tanggal 02 April 2013
[8] Ibid,..
[9] Ibid,..
[10] Ashfal Maula, Nilai-nilai Pendidikan Akhlak Dalam Syair Nasehat KH. R. Asnawi (mahasiswa fakultas tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2005)
[11] Sukron Ma’mun, Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Syair-syair Lagu Roma Irama, (Skipsi Sarjana Stata 1 Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2003).
[12]  Arif S. Sadiman, dkk. Media Pendidikan, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2008), hal. 6
[13]  Ibid,..
[14]  Nurul zuriah, Pendidikan Moral & Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan, (Jakarta: Bumi Aksara), hal. 19.
[15]  Abdurrahman Mas’ud dkk, Paradigma Pendidikan Agama Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), hal. 219.
[16] DEPAG RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (juz 1-30), (Surabaya: Karya Agung), hal. 574.
Abdurrahman Mas’ud, dkk, Paradigma Pendidikan Agama Isla, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), hal.5.[17]
[18] Ibid hal.79
[19] Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), hal. 9.
[20] Muzayyin, Filsafat Pendidikan agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara), hal. 15.
[21] Zakariah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (bumi aksara. Jakarta :2006) hal.
[22] Michael Riffaterre, Semiotic Of Poetry, (Blomington and London: Indiana University Press, 1978), hal. 4-5
[23] Ibid, hal. 13
[24] Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), hal. 115

4 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. bos boleh minta detail skripsi ini..
    saya minta tolong bos cz buat perbandingan dengan skripsi saya.
    tolong dibalas diemail saya bos.
    ini email saya
    umbaratoni@gmail.com

    BalasHapus
  3. bagus judul nya, boleh tau lengkapnya mas,,
    klo boleh hubungi saja 085733893040

    BalasHapus